Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, kualitas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tercermin dari kiprah dan capaian para alumni. Perguruan tinggi dikatakan berhasil jika para alumninya mampu memberikan “kejutan” melalui kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
“Alumni adalah cermin mutu almamater. Jika para alumninya tidak ada yang membuat kejutan atau prestasi besar, maka perguruan tinggi tersebut belum bisa dikatakan hebat,” tegas Menag saat menutup Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PTKIN di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Menag secara khusus memberikan catatan penting mengenai konsistensi akademik alumni PTKIN. Menag mendorong para alumni untuk memiliki kedalaman spesialisasi keilmuan yang linear agar memiliki daya tawar yang kuat di kancah global, sebagaimana tradisi akademik di negara-negara maju.
Kementerian Agama saat ini berupaya mensinergikan potensi alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Upaya ini strategis untuk menguatkan koneksi jaringan antar alumni.
Menurut Menag, saat ini terjadi pergeseran paradigma dalam dunia jejaring. Ia menjelaskan bahwa kekuatan tidak lagi hanya terletak pada kerumunan individu (The Power of I) atau sekadar kebersamaan (The Power of We), melainkan pada konektivitas.
“Sekarang era The Power of Connectivity. Apa artinya kita bicara tentang alumni jika tidak ada jaringan satu sama lain? Jaringan adalah instrumen paling kuat saat ini. Alumni harus mampu menjadi mitra strategis kampus yang terkoneksi secara emosional dan intelektual,” jelasnya.
Menag mengajak seluruh alumni dari PTKIN di Indonesia untuk menanggalkan ego sektoral masing-masing kampus dan mulai membangun sinergi kolektif. “Kalau kita bergerak sendiri-sendiri per kampus, hasilnya tidak akan fantastik. Namun, jika kekuatan alumni dari PTKIN ini disinergikan, maka mimpi menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia Islam bukan hal yang mustahil untuk diejawantahkan,” tambahnya.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menekankan pentingnya wadah formal bagi para alumni. Ia mengimbau kepada para Rektor PTKIN yang belum memiliki ikatan alumni untuk segera melakukan pembentukan.
“Kami mohon para Rektor segera membentuk IKA PTKIN bagi yang belum ada. Ini sangat penting dan strategis, tidak hanya bagi kampus, tetapi juga bagi kemajuan bangsa dan negara,” ujar Sahiron.
Turut hadir Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, Ketua Umum Forum Nasional IKA PTKIN terpilih Idrus Marham, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim, serta para Rektor dan ketua alumni dari berbagai PTKIN di seluruh Indonesia.
*Artikel ini merupakan publikasi ulang yang bersumber sepenuhnya dari kemenag.go.id


